Home / Area Bandung / Disdik Survey Kesiapan KBM

Disdik Survey Kesiapan KBM

NGAMPRAH –Untuk mendapatkan data asli mengenai pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) gelar survei tingkat SMP pada akhir tahun ajaran 2019-2020.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan, KBB, Dadang A Sapardan, mengatakan, Input data oleh pihak sekolah akan dijadikan feedback untuk penetapan kebijakan lanjutan terkait dengan implementasi PJJ jenjang SMP selama pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Menurutnya, Survei dilakukan terhadap 188 sekolah jenjang SMP yang ada di KBB. Dari jumlah sekolah tersebut SMP negeri sebanyak 77 dan SMP swasta sebanyak 111. ”Dari sebanyak 188 SMP, yang mengisi survei sebanyak 103 sekolah atau sekitar 54,78 persen. Yakni 56 SMP negeri atau 54,39 persen dan 47 SMP swasta atau 36,15persen,” kata Dadang, Minggu (26/7).

Melihat keterwakilan kecamatan semuanya sudah terwakili dengan rincia Kecamatan Batujajar sebanyak 5 dari 7 sekolah, Cihampelas 4 dari 10, Cikalongwetan 7 dari 14, Cililin 6 dari 13, Cipatat 6 dari 11, Cipeundeuy 5 dari 9, Cipongkor 4 dari 11, Cisarua 1 dari 5, Gununghalu 6 dari 12, Lembang 22 dari 25, Ngamprah 9 dari 17, Padalarang 11 dari 18, Parongpong 7 dari 12, Rongga 2 dari 10, Saguling 3 dari 4, dan Kecamatan Sindangkerta 5 dari 10 sekolah.

Pada tahun pelajaran lalu jumlah siswa jenjang SMP ada sebanyak 60.913 siswa. Berdasarkan hasil survei dari 103 sekolah, jumlah siswa yang melaksanakan PJJ dengan moda daring dan luring sebanyak 48.471 siswa atau sekitar 79,57 persen.

Dari jumlah 48.471 siswa tersebut, sebanyak 40.852 atau 81,34 persen melaksanakan pembelajaran dengan moda daring, sedangkan sisanya, sebanyak 7.619 siswa atau 18,66 persen melaksanakan pembelajaran dengan mode luring.

”Jadi siswa SMP di KBB yang melaksanakan pembelajaran dengan moda daring berdasarkan hasil survei kepada 48.471 ada sebanyak 40.852 atau 81,34 persen. Sedangkan 7.619 siswa atau 18,66 persen melaksanakan belajar luring yakni pemberian modul latihan atau guru datang ke rumah siswa,” terangnya.

Berdasarkan survei tersebut, pola pembelajaran daring oleh guru banyak memanfaatkan aplikasi seperti google form, quizziz, quipper school, zoom meeting, webec meet, video pembelajaran, dan whatsapp. Sedangkan materi luring dilakukan dengan beberapa cara di antaranya meminta bantuan guru yang rumahnya dekat dengan siswa, orang tua siswa mengambil tugas ke sekolah, memanfaatkan buku paket untuk penugasan, atau membuat kelompok belajar dimana ada siswa memiliki HP android.

”Memang PJJ tidak ideal tapi ini cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Tinggal sekolah mendorong guru agar dapat melakukan pembelajaran dengan dua metode, mengingat tidak semua siswa mempunyai akses belajar daring,” pungkasnya. (mg6/rus)

Check Also

Honorer Keluhkan Realisasi Insentif

NGAMPRAH – Pandemi Covid-19 yang terjadi sela beberapa bulan terakhir memberikan dampak buruk bagi tenaga pendidik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *