Home / Area Bandung / Patali Banyu Tutup KAA

Patali Banyu Tutup KAA

4-5-15-Patali-Banyu-638x330
NIRRA CAHAYA/BANDUNG EKSPRES TUANGKAN AIR: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kedua kiri), Guruh Soekarno Putra (ketiga kiri), Jan Darmadi (keempat kiri) dan Kapolda Jabar Irjen Pol Mochamad Iriawan (kedua kanan) dalam menjalankan prosesi Patali Banyu di Pasir Impun, Kabupaten Bandung, kemarin (2/5).
Bentuk Kepedulian terhadap Lingkungan

darikita.com, BANDUNG – Acara ritual Patali Banyu dihadirkan dalam Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat ke-2 yang berlangsung di Ecowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung. Acara ini sekaligus menutup rangkaian acara peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60.

Proses Patali Banyu adalah prosesi penyatuan air yang diambil dari sumber mata air di Jawa Barat. Pengambilannya berbeda-beda dari setiap daerah. Proses penyatuannya dilakukan oleh Baresan Olot atau para sesepuh dari masing-masing daerah sumber air tersebut.

Sebanyak 15 sumber air dibawa oleh Baresan Olot pada sebuah bambu. Kemudian, satu persatu seluruh air dituangkan pada sebuah mangkuk besar yang terbuat dari kayu. Mangkuk tersebut diserahkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya untuk disatukan ke sumber mata air di Pasir Impun.

Penyatuan air tersebut diakui Eka Santosa, aktivis Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA), merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Krisis air dan kerusakan lingkungan sudah banyak terjadi, namun jarang ada perbaikan. Kalaupun ada, proses pemulihannya memerlukan waktu yang lama.

Dia mengatakan, wailayah Jawa Barat terbilang daerah krisis air. Banyak seke yang rusak dan sudah tidak berfungsi lagi akibat aksi pembangunan. ’’Ritual ini dimaksudkan untuk mempersatukan semua air dari berbagai mata air untuk pembibitan,” paparnya kemarin (2/5).

Air merupakan sumber kehidupan. Pada ritual ini, air yang disatukan pada sebuah bambu dimaknai sebagai cara untuk pemersatu. Jika dianalogikan, air yang berasal dari berbagai sumber itu diibaratkan delegasi negara KAA. Seperti sapu lidi. Jika disatukan akan kuat. namun jika terurai maka akan runtuh.

Didampingi Guruh Soekarno Putra, Jan Darmadi (Wantimpres) dan Kapolda Jabar Irjen Pol Mochamad Iriawan, Siti Nurbaya secara bersama-sama menuangkan seluruh air yang ada di mangkuk bambu ke sumber mata air. Usai proses Patali Banyu, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti Lapang Budaya dan Lingkungan Asia Afrika.

Penandatanganan prasasti dilakukan pada sebuah batu yang dimaksudkan untuk mengenang dan mengingatkan bahwa delegasi KAA pernah berkumpul dan bersatu. Mereka melakukan hal ini untuk hidup berdampingan dan berkenegaraan yang rukun demi terciptanya perdamaian dunia. Sebagai simbol perdamaian dan kemerdekaan, dilepaskan juga burung Cangkurileung dan Tekukur oleh seluruh delegasi mahasiswa negara KAA.

Acara tersebut ditutup dengan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan mahasiwa delegasi dari Asia dan Afrika. Pohon-pohon itu berasal dari seluruh kampung adat yang ada di Jabar. Ada 48 jenis pohon yang ditanam, ini disesuaikan dengan jumlah delegasi. Diiringi arak-arakan kesenian Sunda dari berbagai daerah, seluruh delegasi pergi ke atas bukit untuk melaksanakan penanaman.

Hari sebelumnya (1/5), 48 delegasi KAA menghadiri peringatan ke-2 Konferensi Mahasiswa Asia Afrika (KMAA) yang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Kota Bandung. KMAA pertama kali diselenggarakan di Bandung pada 30 Mei hingga 7 Juni 1956 silam. Saat itu, sebanyak 27 negara mengirimkan para delegasi mereka guna menghadiri konferensi tersebut.

’’Saat itu KMAA 1956 menghasilkan sejumlah poin terkait kerja sama pendidikan antara universitas dan fakultas di Asia-Afrika,’’ kata Presiden KMAA, Yasmin Nindya Chaerunisa.

Lebih lanjut Yasmin menjelaskan, konferensi yang digelar kali ini mengangkat tema Reinvigorating the Bandung Spirit Working towards the Asian-African Youth Leadership. Konferensi itu berfokus pada enam isu utama terkait kepemimpinan. Salah satunya merumuskan stategi guna mendorong peran kepemimpinan guna mempromosikan nilai-nilai budaya di Asia-Afrika.

’’Setelah melakukan diskusi terkait enam isu tersebut, maka kami akan mengeluarkan sejumlah resolusi dan pernyataan bersama pada sesi deklarasi,’’ terang dia.

Acara yang berlangsung sejak 29 April hingga 2 Mei 2015 itu juga dihadiri Ketua Delegasi Mahasiswa Indonesia pada KMAA 1956, Emil Salim. (mg11/tam)

Check Also

Satpol PP Segel Puluhan Reklame

BANDUNG– Sepanjang 2019, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung berhasil menyegel 24 reklame …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *