Home / Area Bandung / Cilame Jadi Pilot Project
HendrikKaparyadi/BandungEkspres PENJELASAN: Sejumlah masyarakat saat mengunjungi perpustakaan Desa Cilame berbasis IT (teknologi informasi) atau disebut perpuseru oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Jawa Barat, kemarin.

Cilame Jadi Pilot Project

HendrikKaparyadi/BandungEkspres PENJELASAN: Sejumlah masyarakat saat mengunjungi perpustakaan Desa Cilame berbasis IT (teknologi informasi) atau disebut perpuseru oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Jawa Barat, kemarin.
HendrikKaparyadi/BandungEkspres
PENJELASAN: Sejumlah masyarakat saat mengunjungi perpustakaan Desa Cilame berbasis IT (teknologi informasi) atau disebut perpuseru oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Jawa Barat, kemarin.
Terapkan Sistem Perpustakaan Desa Berbasis IT

darikita.com, NGAMPRAH – Desa Cilame Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat menjadi pilot project (percontohan) sebagai desa yang mengembangkan sistem perpustakaan desa berbasis IT (teknologi informasi) atau disebut perpuseru oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Jawa Barat. Saat ini, di Jadar sendiri sudah terpilih enam desa yang diharapkan menjadi cikal bakal tumbuhnya perpustakaan berbasis IT.

Keenam desa yang menjadi pilot project tersebut masing-masing yaitu Desa Cikandang Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut, Desa Majasari Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu, Desa Sidomulyo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran, Desa Cigadung Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, Desa Winduraja Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis dan Desa Cilame di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kepala Bidang Pemberdayaan Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Bapusipda Jawa Barat, Ida Hendrawati mengatakan, keenam desa yang telah ditetapkan sebagai percontohan tersebut, selain memperoleh stimulan koleksi buku dan perangkat komputer, desa-desa tersebut juga memperoleh pelatihan khusus mengenai manajemen pengelolaan perpustakaan.

”Perpustakaan berbasis IT ini akan menjadi pusat berkumpulnya elemen masyarakat untuk mengakses internet dengan mudah. Bedanya dengan perpustakaan pada umumnya hanya menyediakan buku bacaan saja, namun di perpustakaan yang kita tunjuk ini mengedepankan model IT,” kata Ida saat ditemui di sela-sela pelatihan manajemen pengelolaan perpustakaan desa di Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, kemarin.

Dijelaskannya, para pengelola perpustakaan desa selama 4 hari, akan memperoleh pelatihan khusus mengenai manajemen dan seluk beluk perpustakaan. Selain diajarkan bagaimana mengelola perpustakaan, mereka juga dilatih bagaimana cara berpromosi dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat desa.

Program perpuseru yang digagas Pemprov Jabar tersebut memiliki kelebihan dibanding perpustakaan atau taman bacaan pada umumnya. Salah satu kelebihan perpuseru yang tidak dimiliki perpustakaan lain adalah tersedianya jaringan internet dan koleksi buku yang beraneka ragam sehingga menyentuh berbagai kalangan masyarakat.

Di Jawa Barat sendiri, diakuinya cukup banyak perpustakaan yang sudah berdiri termasuk di desa-desa. Di seluruh Jawa Barat, lanjut Ida, saat ini terdapat 3.789 perpustakaan desa dan kelurahan. Namun dari jumlah tersebut, sebagian besarnya dalam keadaan mati suri atau sama sekali tidak aktif.

Banyaknya perpustakaan desa yang berguguran, menurut Ida, bukan karena disebabkan karena minimnya minat baca masyarakat desa. Namun, kata dia, penyebab utamanya justru karena minimnya pengetahuan pihak pengelola terhadap manajemen pengelolaan perpustakaan yang meliputi strategi pengembangan perpustakaan, promosi, pembuatan rencana kerja, evaluasi hingga penambahan koleksi buku.

”Ternyata dari jumlah ribuan itu, tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Bahkan banyak perpustakaan yang akhirnya mati. Kendalanya banyak tapi yang paling utama penyebabnya karena manajemen pengelolaannya tidak baik,” beber Ida.

Sementara itu, Kepala Desa Cilame Aas Mohamad Asor mengatakan, saat ini di perpustakaannya sudah ada 1.200 buku yang merupakan sumbangan dari donatur, pemprov/Kabupaten, dan masyarakat umum. ”Perpustakaan ini sebenarnya sudah ada sejak 2010 lalu. Hanya saja, saat ini dilengkapi dengan model berbasis IT,” katanya.

Dengan fasilitas baru serta mengedepankan IT, pihaknya akan berkonsentrasi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dalam melakukan pengelolaan. ”Rencananya nanti akan terpasang 6 komputer sebagai penunjang fasilitas yang digunakan oleh masyarakat dan anak-anak sekolah,” tandasnya. (drx/asp)

Check Also

Satpol PP Segel Puluhan Reklame

BANDUNG– Sepanjang 2019, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung berhasil menyegel 24 reklame …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *